Angga Sasongko Sebut Insiden Tewasnya Suporter karena Lemahnya Penegakan Hukum

Jakarta: Dunia sepak bola kembali mendapat sorotan setelah kematian Haringga Sirila (23), pendukung Persija yang tewas dikeroyok Bobotoh atau pendukung Persib di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Minggu, 23 September 2018. Sutradara Angga Dwimas Sasongko menilai aksi kekerasan itu lumrah terjadi karena banyak orang mudah tersulut.

“Kekerasan adalah benda yang mudah disulut, ketika orang berkerumun menjadi tribe, enggak peduli orang bola, itu terjadi di politik, kepartaian, orang berkerubung disulut sedikit, kekerasan jadi hal mekanik dari orang-orang berkerumun ketika mereka terasa terancam atau ketika mereka merasa relasi kuasanya lebih besar,” kata sutradara Filosofi Kopi itu kepada Medcom.id di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis, 27 September 2018.

Delapan tersangka pengeroyokan Haringga telah diringkus. Kekerasan ini tidak hanya terjadi sekali. Dalam catatan jejak peristiwa yang dirangkum LSM Save Our Soccer (SOS), selama 23 tahun ini, Haringga menjadi suporter ke-56 yang tewas gara-gara bola. Dari kacamata sutradara Angga Sasongko, peristiwa ini terulang karena pondasi hukum yang lemah.

“Masalahnya apa, solusinya apa? Law enforcement. Untuk enggak melakukan kekerasan kan penegakan hukum. Buat saya sampai hari ini penegakan hukumnya tidak kuat. Baik dari kepolisian sebagai orang yang menjaga di luar dunia sepakbola, kita harus lihat bahwa kalau dia sudah ada di ruang publik, ya dia domainnya kepolisian,” paparnya.

Menurut sutradara yang pernah mengangkat cerita tentang bagaimana sepak bola menjadi penyelamat anak-anak dari konflik di Ambon lewat film berjudul Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) ini, bentuk hukuman yang diberikan juga harus memiliki efek jera.

“Sebagai federasi menurut saya penting PSSI punya penegakan hukum terhadap klub, terhadap stakeholder. Karena suporter bukan stakeholder-nya PSSI, tapi supporter stakeholder-nya klub, yang klub adalah stakeholder-nya PSSI. Dia harus punya mekanik bagaimana klub itu kalau punya supporter kayak gini, ya keras sanksinya. Jangan sanksinya, ‘Oh nyanyi lagu rasis, sanksinya Rp20 juta’. Nyanyi saja terus sanksinya cuma Rp20 juta, murah,” kata Angga.

“Dari lagu rasis, itu mencuci otak 1 orang, 2 orang, jadi ratusan, tentang siklus dan budaya kekerasan. Jadi, dalam setiap studi sosial ketika berhadapan sama kelompok masyarakat untuk bisa mendisiplinkan mereka, membuat mereka patuh ya hukum yang kuat, sesederhana itu,” pungkasnya.

(ELG)